TWO-WAY MONOLOGUE

...'Cos talking is one way to understand...

10:51 pm

They talk about distance of the hearts

Posted by: novippuda |

Sang Guru : Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?

Sang Murid : Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak.

Sang Guru : Tapi… lawan bicaranya justru berada disampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?

Sang Murid : [ramai memeberikan alasan masing – masing]

Sang Guru : [terdiam dan merasa belum puas]

Sang Murid : [tetap berusaha menjelaskan]

Sang Guru : Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak.

Sang Murid : [terdiam & mencerna]

Sang Guru : Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi.

Sang Murid : [tetap mendengarkan dengan seksama]

Sang Guru : Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?

Sang Murid : [menampakkan mimik berpikir, namun tidak berani menjawab]

Sang Guru : Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak… Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja, amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan.

Sang Murid : [menatap Sang Guru dengan dalam]

Sang Guru : Ketika Anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata – kata adalah cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu Anda.

Sang Guru : [tersenyum]


Dialogue ended, curtain fell


Dialogue derived from: [Bajaj Pulsar] (OOT) Jarak hati – 27/11/09

1:02 pm

We talk about fear

Posted by: novippuda |

Dia : Waktu kemaren gue ke Bali yah, gue maen apapun. Jet ski, slingshot, and so on. Dan pengalaman yang paling berasa itu adalah waktu maen slingshot.

Saya : Kenapa memangnya?

Dia : Waktu naek slingshot ya, yang ada gue ngerasa sangat ketakutan. Gue baru pertama kali itu ngerasa ketakutan. Takutnya tuh bahkan lebih dari ketika gue jatoh dari motor.

Saya : [mempertahankan kontak mata]

Dia : Gue sangat was-was dengan apa yang gue hadapi. Semua penuh di kepala gue, ‘Ini belt-nya aman ga? Gimana kalo nanti kendor dan gue jatoh?’ Pikiran-pikiran macam itulah yang ada di otak gue.

Saya : Lalu?

Dia : Dan… slingshot pun melayang di udara. Ketika itu yang gue lakukan hanya memejamkan mata. Sama sekali ga mo ngebuka. Gue berasa takut banget. Entah karena gue memang banyak beban, atau gue takut mati. Semuanya di luar kontrol gue. Tapi yang pasti gue ga Menikmati. Gue sama sekali ga relax.

Saya : Mmmmm…

Dia : Padahal yang seharusnya terjadi adalah gue buka mata dan ngeliat tu pulau dari atas. Gue seharusnya bener-bener ngerasain Adrenalin gue terpacu ketika turun ke bawah dan kepental lagi nyampe atas. Tapi yang ada, gue malah tegang. Ga nikmatin. Dan takut mati. Seharusnya gue pasrah aja. Mo mati ya mati. Tapi pada saat itu gue sangat takut.

Saya : Begitu ya?

Dia : Iye. Apa yang loe takutkan?

Saya : Kalo kamu apa?

Dia : Seperti cerita gue, gue paling takut ketika tidak punya kontrol atas apapun. Di kondisi itu, gue sama sekali ga punya kontrol akan apapun. Itu makanya gue ketakutan banget. Padahal, dulu waktu gue lebih muda, ketakutan itu ga ada sama sekali. Kalo loe?

Saya : Mmmm…

Dia : [menatap dan menunggu]

Saya : Aku takut kehilangan.

Dia : Apa?

Saya : Anything.

Dia : Something, someone…?

Saya : Orang-orang yang aku kenal dekat.

Dia : Okay.

Saya : Dan, aku takut melupakan.

Dia : [diam]

Saya : Aku sangat takut melupakan orang. Karena aku tahu rasanya dilupakan.

Dia : [tetap diam]

Saya : [ikut terdiam]


Dialogue ended, curtain fell

Subscribe